ENAKNYA JADI ANAK KECIL
Saat duduk di pekarangan rumah sambil menikmati kopi, aku melihat sekumpulan anak-anak berlalu-lalang. keceriaan dan tawa pecahnya membuatku tersenyum simpul. aku ingat, aku pernah diposisi itu, sesenang itu.
Rasanya bahagia sekali bisa berkumpul bermain diluar rumah. menikmati sore dengan bermain petak umpat, menjagar layangan putus, atau bermain bola di tanah becek. waktu permainan akan dinyatakan selesai saat mushala mulai membunyikan sound mengaji atau teriakan mama memanggil untuk segera pulang. Rasanya masa-masa itu adalah masa yang paling menyenangkan.
Aku memperlihatkan mereka satu persatu. wajahnya yang lugu sesekali tertawa dan tersenyum ke arahku yang menatapnya lembut. Tatapan mereka seperti tahu kalo jadi dewasa tidak menyenangkan, aku setuju itu.
Aku mengingat kembali teman-teman masa kecilku, sama-sama mengenang kesenangan dan keluguan, menertawakan kembali kesenangan dahulu, namun itu semua sudah sulit. kini satu persatu dari mereka tela menemukan teman barunya, mereka sudah memilih jalan hidupnya masing-masing. perjalanan hidup yang membawa kita bukan lagi untuk bermain-main meski kadang suka menertawakan saat sadar hidup adalah seni permainan menjaga kewarasan.
Meski dalam satu tempat yang sama, rasanya kenangan tetap menjadi sebuah kenangan. aku masih melihat orang-orang yang dulu menemani masa kecilku. aku masih bisa ngobrol sekadarnya, masih tahu kabarnya. tapi, tetap tidak bisa mengulangi masanya, karena sejatinya fase hidup memang terus berjalan dan berubah. tidak ada yang perlu disayangkan, karena semuanya pun mencoba berproses dengan hidupnya.
Semuanya berhak mengambil perannya masing-masing. mengubah kodrat masa kecil menjadi manusia dewasa yang pelan-pelan memikul bebannya. ada yang sibuk mengejar pendidikan, sibuk kerja, beberapa diantaranya ada yang sudah memiliki berkeluarga.
Dengan kopi yang sudah habis setengah, sore yang sudah mulai larut, dan sekumpulan bocah yang mulai pulang ke rumahnya masing-masing. tidak terasa mataku mulai sembab seteah mengenang kalau masa itu sudah habis. masa paling menyenangkan, masa-masa dimana belum punya beban, masa di mana belum diberi tanggung jawab.
Ingin rasanya kembali mengulang, namun mustahil. seakan terpaksa menjadi dewasa, sesuatu yang dituntut harus dijalani dengan lapang dada, penuh dengan beban dan tanggungan soal masa depan, harapan orang-orang terdekat, stereotip dan paradigma tetangga soal belum uga menikah sementara teman-teman seusia sudah banyak yang menyebar undangan. kalau terus dipikir-pikir rasanya jadi dewasa sangat melelahkan.
Perjuangan memenuhi ekspetasi banyak orang, padahal yang menjalani dan menerima konsekuensinya adalah diri sendiri. kadang kita terlalu banyak mendengar sesuatu yang tidak perlu didengar. kita terlalu fokus dengan apa yang orang lain harapkan tanpa melihat kapasitas diri sendiri. akhirnya, kita lelah dengan semuanya karena apa yang kita jalani selalu berpacu pada harapan orang lain. kita selalu berpegang dengan apa yang sudah orang-orang gapai.

Komentar
Posting Komentar